Makalah Kerajaan Gowa Tallo
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat allah subhanahuwata’ala, karena berkat rahmatnya kami bisa
menyelesaikan makalah yang bertema “kerajaan gowa tallo”. Makalah ini di ajukan
guna memenuhi tugas mata pelajaran sejarah . Kami mengucapkan terima kasih pada
semua anggota kelompok yang telah membantu sehungga makalah ini dapat di
selesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan dari
sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini memberikan informasi bagi
teman-teman dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu
pengetahuanbagi kita semua.
Kebanaran, April 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar………………………………………………………………………………i
Daftar
Isi…………………………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………….1
1.1.LatarBelakang………………………………………………………………………….. 1
1.2
Rumusan Masalah……………………………………………………………………….1
1.3
Tujuan Penulisan……………………………………………………………………….. 1
BAB
II PEMBAHASAN…………………………………………………… ..2
2.1
Sejarah awal Kerajaan Gowa Tallo………………………………………………….... ...2
2.2
Letak Kerajaan Gowa Tallo…………………………………………………………… ..2
2.3
Silsilah Raja Kerajaan Gowa Tallo…………………………………………………….. .3
2.4
Kondisi sosial, ekonomi dan politik Kerajaan Gowa Tallo…………………………… ..5
2.5
Proses kehancuran dari Kerajaan Gowa Tallo………………………………………... ...7
2.6
Peninggalan-peninggalan Kerajaan Gowa Tallo……………………………………… ..7
BAB III PENUTUP………………………………………………………… ..9
3.1. Kesimpulan…………………………………………………………………………… ..9
3.2. Saran…………………………………………………………………………………. ...9
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………….. .10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kesultanan
Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah satu kerajaan besar dan paling
sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan. Rakyat dari kerajaan ini
berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung selatan dan pesisir barat
Sulawesi. Wilayah kerajaan ini sekarang berada dibawah Kabupaten Gowa dan
daerah sekitarnya yang dalam bingkai negara kesatuan RI dimekarkan menjadi
Kotamadya Makassar dan kabupaten lainnya. Kerajaan ini memiliki raja yang
paling terkenal bergelar Sultan Hasanuddin, yang saat itu melakukan peperangan
yang dikenal dengan Perang Makassar (1666-1669) terhadap Belanda yang dibantu
oleh Kerajaan Bone yang berasal dari Suku Bugis dengan rajanya Arung Palakka.
Tapi perang ini bukan berati perang antar suku Makassar – suku Bugis, karena di
pihak Gowa ada sekutu bugisnya demikian pula di pihak Belanda-Bone, ada sekutu
Makassarnya. Politik Divide et Impera Belanda, terbukti sangat ampuh disini.
Perang Makassar ini adalah perang terbesar Belanda yang pernah dilakukannya di
abad itu.
1.2
Rumusan Masalah
a.
Bagaimana
sejarah awal dari Kerajaan Gowa Tallo?
b.
Dimana
letak Kerajaan Gowa Tallo?
c.
Bagaimana
silsilah Raja Kerajaan Gowa Tallo?
d.
Bagaimana
kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Kerajaan Gowa Tallo?
e.
Bagaimana
proses kehancuran dari Kerajaan Gowa Tallo?
f.
Apa
saja peninggalan Kerajaan Gowa Tallo?
1.3
Tujuan Penulisan
a.
Mengetahui
sejarah awal dari Kerajaan Gowa Tallo.
b.
Mengetahui
letak Kerajaan Gowa Tallo.
c.
Mengetahui
silsilah Raja Kerajaan Gowa Tallo.
d.
Mengetahui
kondisi sosial, ekonomi, dan politk di Kerajaan Gowa Tallo.
e.
Mengetahui
proses kehancuran dari Kerajaan Gowa Tallo.
f.
Mengetahui
peninggalan Kerajaan Gowa Tallo.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah awal Kerajaan Gowa Tallo
Pada awalnya di daerah Gowa terdapat sembilan
komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan
Bendera), yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung,
Parang-Parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Melalui berbagai
cara, baik damai maupun paksaan, komunitas lainnya bergabung untuk membentuk
Kerajaan Gowa. Cerita dari pendahulu di Gowa dimulai oleh Tumanurung sebagai
pendiri Istana Gowa, tetapi tradisi Makassar lain menyebutkan empat orang yang
mendahului datangnya Tumanurung, dua orang pertama adalah Batara Guru dan
saudaranya
Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa,
adalah salah satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi
Selatan. Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang
berdiam di ujung selatan dan pesisir barat Sulawesi. Wilayah kerajaan ini
sekarang berada di bawah Kabupaten Gowa dan beberapa bagian daerah
sekitarnya. Kerajaan ini memiliki raja yang paling terkenal bergelar Sultan
Hasanuddin, yang saat itu melakukan peperangan yang dikenal dengan Perang
Makassar (1666-1669) terhadap VOC yang dibantu oleh Kerajaan
Bone yang dikuasai oleh satu wangsa Suku Bugis dengan
rajanya Arung Palakka. Perang Makassar bukanlah perang antarsuku karena
pihak Gowa memiliki sekutu dari kalangan Bugis; demikian pula pihak
Belanda-Bone memiliki sekutu orang Makassar. Perang Makassar adalah perang
terbesar VOC yang pernah dilakukannya di abad ke-17.
2.2 Letak Kerajaan Gowa Tallo
Kerajaan Gowa dan Tallo lebih dikenal dengan
sebutan Kerajaan Makassar. Kerajaan ini terletak di daerah Sulawesi Selatan.
Makassar sebenarnya adalah ibukota Gowa yang dulu disebut sebagai Ujungpandang.
Secara geografis Sulawesi Selatan memiliki posisi yang penting, karena dekat
dengan jalur pelayaran perdagangan Nusantara. Bahkan daerah Makassar menjadi
pusat persinggahan para pedagang, baik yang berasal dari Indonesia bagian timur
maupun para pedagang yang berasal dari daerah Indonesia bagian barat. Dengan
letak seperti ini mengakibatkan Kerajaan Makassar berkembang menjadi kerajaan
besar dan berkuasa atas jalur
perdagangan Nusantara. Berikut adalah peta Sulawesi Selatan pada saat itu.
2.3 Silsilah Raja Kerajaan Gowa Tallo
1. Tumanurunga
(+ 1300)
2. Tumassalangga
Baraya
3. Puang Loe
Lembang
4. I
Tuniatabanri
5. Karampang ri
Gowa
6. Tunatangka Lopi (+ 1400)
7. Batara Gowa
Tuminanga ri Paralakkenna
8. Pakere Tau
Tunijallo ri Passukki
9. Daeng Matanre
Karaeng Tumapa'risi' Kallonna (awal abad ke-16)
10. I Manriwagau
Daeng Bonto Karaeng Lakiyung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565)
11. I Tajibarani
Daeng Marompa Karaeng Data Tunibatte
12. I Manggorai
Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565-1590).
13. I
Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (1593).
14. I Mangari
Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tuminanga ri Gaukanna Berkuasa mulai tahun 1593
- wafat tanggal 15 Juni 1639. Merupakan penguasa Gowa pertama yang memeluk
agama Islam.
15. I
Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri
Papang Batuna Lahir 11 Desember 1605, berkuasa mulai tahun 1639 hingga wafatnya
6 November 1653
16. I
Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga
ri Balla'pangkana Lahir tanggal 12 Juni 1631, berkuasa mulai tahun 1653 sampai
1669, dan wafat pada 12 Juni 1670 17. I Mappasomba Daeng Nguraga Sultan Amir
Hamzah Tuminanga ri Allu' Lahir 31 Maret 1656, berkuasa mulai tahun 1669 hingga
1674, dan wafat 7 Mei 1681.
17. I
Mallawakkang Daeng Mattinri Karaeng Kanjilo Tuminanga ri Passiringanna
18. Sultan
Mohammad Ali (Karaeng Bisei) Tumenanga ri Jakattara Lahir 29 November 1654,
berkuasa mulai 1674 sampai 1677, dan wafat 15 Agustus 1681
19. I Mappadulu
Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tuminanga ri Lakiyung.
(1677-1709)
20. La Pareppa
Tosappe Wali Sultan Ismail Tuminanga ri Somba Opu (1709-1711)
21. I
Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi
22. I Manrabbia
Sultan Najamuddin
23. I
Mappaurangi Sultan Sirajuddin Tuminang ri Pasi. (Menjabat untuk kedua kalinya
pada tahun 1735)
24. I Mallawagau
Sultan Abdul Chair (1735-1742)
25. I
Mappibabasa Sultan Abdul Kudus (1742-1753)
26. Amas Madina
Batara Gowa (diasingkan oleh Belanda ke Sri Lanka) (1747-1795)
27. I
Mallisujawa Daeng Riboko Arungmampu Tuminanga ri Tompobalang (1767-1769)
28. I
Temmassongeng Karaeng Katanka Sultan Zainuddin Tuminanga ri Mattanging
(1770-1778)
29. I Manawari
Karaeng Bontolangkasa (1778-1810)
30. I Mappatunru
/ I Mangijarang Karaeng Lembang Parang Tuminang ri Katangka (1816-1825)
31. La Oddanriu
Karaeng Katangka Tuminanga ri Suangga (1825-1826)
32. I Kumala
Karaeng Lembang Parang Sultan Abdul Kadir Moh Aidid Tuminanga ri Kakuasanna
(1826 - wafat 30 Januari 1893)
33. I Malingkaan
Daeng Nyonri Karaeng Katangka Sultan Idris Tuminanga ri Kalabbiranna (1893-
wafat 18 Mei 1895)
34. I Makkulau Daeng Serang Karaeng
Lembangparang Sultan Husain Tuminang ri Bundu'na Memerintah sejak tanggal 18
Mei 1895, dimahkotai di Makassar pada tanggal 5 Desember 1895. Ia melakukan
perlawanan terhadap Hindia Belanda pada tanggal 19 Oktober 1905 dan
diberhentikan dengan paksa oleh Hindia Belanda pada 13 April 1906. Ia meninggal
akibat jatuh di Bundukma, dekat Enrekang pada tanggal 25 Desember 1906.
35. I Mangimangi
Daeng Matutu Karaeng Bonto Nompo Sultan Muhammad Tahur Muhibuddin Tuminanga ri
Sungguminasa (1936-1946)
36. Andi Ijo
Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin
(1956-1960) merupakan Raja Gowa terakhir, meninggal di Jongaya pada tahun 1978.
2.4 Kondisi sosial, ekonomi dan politik Kerajaan Gowa
Tallo
a.
Kondisi
sosial budaya Kerajaan Gowa Tallo
Sebagai negara Maritim, maka sebagian besar masyarakat
Makasar adalah nelayan dan pedagang. Mereka giat berusaha untuk meningkatkan
taraf kehidupannya, bahkan tidak jarang dari mereka yang merantau untuk
menambah kemakmuran hidupnya. Walaupun
masyarakat Makasar memiliki kebebasan untuk berusaha dalam mencapai
kesejahteraan hidupnya, tetapi dalam kehidupannya mereka sangat terikat dengan
norma adat yang mereka anggap sakral. Norma kehidupan masyarakat Makasar diatur
berdasarkan adat dan agama Islam yang disebut PANGADAKKANG. Dan masyarakat
Makasar sangat percaya terhadap norma-norma tersebut.Di samping norma tersebut,
masyarakat Makasar juga mengenal pelapisan sosial yang terdiri dari lapisan
atas yang merupakan golongan bangsawan dan keluarganya disebut dengan
“Anakarung/Karaeng”, sedangkan rakyat kebanyakan disebut “to Maradeka” dan
masyarakat lapisan bawah yaitu para hamba-sahaya disebut dengan golongan “Ata”.
Dari
segi kebudayaan, maka masyarakat Makasar banyak menghasilkan benda-benda budaya
yang berkaitan dengan dunia pelayaran. Mereka terkenal sebagai pembuat kapal.
Jenis kapal yang dibuat oleh orang Makasar dikenal dengan nama Pinisi dan
Lombo.Kapal Pinisi dan Lombo merupakan kebanggaan rakyat Makasar dan terkenal
sampai mancanegara.
b.
Kondisi
ekonomi Kerajaan Gowa Tallo
Kerajaan Makasar merupakan kerajaan Maritim dan
berkembang sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian Timur. Hal ini
ditunjang oleh beberapa faktor :
•
letak yang strategis,
•
memiliki pelabuhan yang baik
•
jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang
yang pindah ke Indonesia Timur.
Sebagai pusat perdagangan Makasar berkembang sebagai
pelabuhan internasional dan banyak disinggahi oleh pedagang-pedagang asing
seperti Portugis, Inggris, Denmark dan sebagainya yang datang untuk berdagang
di Makasar.
Pelayaran
dan perdagangan di Makasar diatur berdasarkan hukum niaga yang disebut dengan
ADE’ ALOPING LOPING BICARANNA PABBALUE, sehingga dengan adanya hukum niaga
tersebut, maka perdagangan di Makasar menjadi teratur dan mengalami
perkembangan yang pesat.
Selain perdagangan, Makasar juga mengembangkan
kegiatan pertanian karena Makasar juga menguasai daerah-daerah yang subur di
bagian Timur Sulawesi Selatan.
c.
Kondisi
politik Kerajaan Gowa Tallo
Penyebaran
Islam di Sulawesi Selatan dilakukan oleh Datuk Robandang/Dato’ Ri Bandang dari
Sumatera, sehingga pada abad 17 agama Islam berkembang pesat di Sulawesi
Selatan, bahkan raja Makasar pun memeluk agama Islam. Raja Makasar yang pertama
memeluk agama Islam adalah Sultan Alaudin. Sejak pemerintahan Sultan Alaudin
kerajaan Makasar berkembang sebagai kerajaan maritim dan berkembang pesat pada
masa pemerintahan raja Muhammad Said (1639 – 1653).
Selanjutnya
kerajaan Makasar mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan
Hasannudin (1653 – 1669). Pada masa pemerintahannya Makasar berhasil memperluas
wilayah kekuasaannya yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta
daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makasar. Ia berhasil
menguasai Ruwu, Wajo, Soppeng, dan Bone.Perluasan daerah Makasar tersebut
sampai ke Nusa Tenggara Barat. Daerah kekuasaan Makasar luas, seluruh jalur
perdagangan di Indonesia Timur dapat dikuasainya. Sultan Hasannudin terkenal
sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu ia
menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yang telah berkuasa
di Ambon. Untuk itu hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia
Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya kerajaan Makasar. Dengan kondisi
tersebut maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan
menyebabkan terjadinya peperangan. Peperangan tersebut terjadi di daerah
Maluku.
Dalam
peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin memimpin sendiri pasukannya untuk
memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku. Akibatnya kedudukan Belanda
semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasannudin tersebut maka Belanda
memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur. Upaya Belanda untuk
mengakhiri peperangan dengan Makasar yaitu dengan melakukan politik adu-domba
antara Makasar dengan kerajaan Bone (daerah kekuasaan Makasar). Raja Bone yaitu
Aru Palaka yang merasa dijajah oleh Makasar mengadakan persetujuan kepada VOC
untuk melepaskan diri dari kekuasaan Makasar. Sebagai akibatnya Aru Palaka
bersekutu dengan VOC untuk menghancurkan Makasar.
Akibat
persekutuan tersebut akhirnya Belanda dapat menguasai ibukota kerajaan Makasar.
Dan secara terpaksa kerajaan Makasar harus mengakui kekalahannya dan
menandatangai perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya tentu sangat merugikan
kerajaan Makasar.
Isi dari
perjanjian Bongaya antara lain:
a. VOC memperoleh hak monopoli perdagangan
di Makasar.
b. Belanda dapat mendirikan benteng di
Makasar.
c. Makasar harus melepaskan daerah-daerah
jajahannya seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makasar.
d. Aru Palaka diakui sebagai raja Bone.
Walaupun
perjanjian telah diadakan, tetapi perlawanan Makasar terhadap Belanda tetap
berlangsung. Bahkan pengganti dari Sultan Hasannudin yaitu Mapasomba (putra
Hasannudin) meneruskan perlawanan melawan Belanda.Untuk menghadapi perlawanan
rakyat Makasar, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran. Akhirnya
Belanda dapat menguasai sepenuhnya kerajaan Makasar, dan Makasar mengalami
kehancurannya.
2.5 Proses Kehancuran Kerajaan Gowa Tallo
Sepeninggal Hasanuddin, Makassar
dipimpin oleh putranya bernama napasomba. Sama seperti ayahnya, sultan ini
menentang kehadiran belanda dengan tujuan menjamin eksistensi Kesultanan
Makasar. Namun, Mapasomba gigih pada tekadnya untuk mengusir Belanda dari
Makassar. Sikapnya yang keras dan tidak mau bekerja sama menjadi alasan Belanda
mengerahkan pasukan secara besar-besaran. Pasukan Mapasomba berhasil
dihancurkan dan Mapasomba sendiri tidak diketahui nasibnya. Belanda pun
berkuasa sepenuhnya atas kesultanan Makassar.
2.6 Peninggalan – Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo
Fort
Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng
peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai
sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini dibangun pada tahun
1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung
Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun
pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini
diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di
daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang
hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi
Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun
dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan. Nama asli
benteng in i adalah Benteng Ujung Pandang.
Benteng Fort
Rotterdam
Masjid Katangka
Mesjid
Katangka didirikan pada tahun 1605 M. Sejak berdirinya telah mengalami beberapa
kali pemugaran. Pemugaran itu berturut-turut dilakukan oleh Sultan Mahmud (1818), Kadi Ibrahim (1921), Haji Mansur
Daeng Limpo, Kadi Gowa (1948), dan Andi Baso, Pabbicarabutta Gowa (1962) sangat
sulit mengidentifikasi bagian paling awal (asli) bangunan mesjid tertua
Kerajaan Gowa ini.
Kompleks makam
raja gowa tallo.
Makam
raja-raja. Tallo adalah sebuah kompleks makam kuno yang dipakai sejak abad XVII
sampai dengan abad XIX Masehi. Letaknya di RK 4 Lingkungan Tallo, Kecamatan
Tallo, Kota Madya Ujungpandang. Lokasi makam terletak di pinggir barat muara
sungai Tallo atau pada sudut timur laut dalam wilayah benteng Tallo. Ber¬dasarkan
basil penggalian (excavation) yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan sejarah dan
Purbakala (1976¬-1982) ditemukan gejala bah wa komplek makam ber¬struktur
tumpang-tindih. Sejumlah makam terletak di atas pondasi bangunan, dan
kadang-kadang ditemukan fondasi di atas bangunan makam.
Kompleks
makam raja-raja Tallo ini sebagian ditempat¬kan di dalam bangunan kubah, jirat
semu dan sebagian tanpa bangunan pelindung: Jirat semu dibuat dan balok¬balok
ham pasir. Bangunan kubah yang berasal dari kuran waktu yang lebih kemudian
dibuat dari batu bata. Penempatan balok batu pasir itu semula tanpa
memper¬gunakan perekat. Perekat digunakan Proyek Pemugaran. Bentuk bangunan
jirat dan kubah pada kompleks ini kurang lebih serupa dengan bangunan jirat dan
kubah dari kompleks makam Tamalate, Aru Pallaka, dan Katangka. Pada kompleks
ini bentuk makam dominan berciri abad XII Masehi.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesultanan Gowa atau kadang ditulis Goa, adalah salah
satu kerajaan besar dan paling sukses yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan.
Rakyat dari kerajaan ini berasal dari Suku Makassar yang berdiam di ujung
selatan dan pesisir barat Sulawesi. Pada awalnya di daerah Gowa terdapat
sembilan komunitas, yang dikenal dengan nama Bate Salapang (Sembilan Bendera),
yang kemudian menjadi pusat kerajaan Gowa: Tombolo, Lakiung, Parang-Parang,
Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero dan Kalili. Sejak Gowa Tallo sebagai
pusat perdagangan laut, kerajaan ini menjalin hubungan dengan Ternate yang
sudah menerima Islam dari Gresik. Raja Ternate yakni Baabullah mengajak raja
Gowa Tallo untuk masuk Islam, tapi gagal. Baru pada masa Raja Datu Ri Bandang
datang ke Kerajaan Gowa Tallo agama Islam mulai masuk ke kerajaan ini.
Setahun kemudian hampir seluruh penduduk Gowa Tallo
memeluk Islam. Mubaligh yang berjasa menyebarkan Islam adalah Abdul Qodir
Khotib Tunggal yang berasal dari Minangkabau. Makasar mencapai puncak
kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653 – 1669). Daerah
kekuasaan Makasar luas, seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat
dikuasainya. Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada
dominasi asing. Dalam peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin memimpin
sendiri pasukannya untuk memporak-porandakan pasukan Belanda di Maluku.
Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasannudin
tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari
Timur.
Demikian Gowa telah mengalami pasang surut dalam
perkembangan sejak Raja Gowa pertama, Tumanurung (abad 13) hingga mencapai
puncak keemasannya pada abad XVIII kemudian sampai mengalami transisi setelah
bertahun-tahun berjuang menghadapi penjajahan. Dalam pada itu, sistem
pemerintahanpun mengalami transisi di masa Raja Gowa XXXVI Andi Idjo Karaeng
Lalolang, setelah menjadi bagian Republik Indonesia yang merdeka dan bersatu,
berubah bentuk dari kerajaan menjadi daerah tingkat II Otonom. Sehingga dengan
perubahan tersebut, Andi Idjo pun tercatat dalam sejarah sebagai Raja Gowa
terakhir dan sekaligus Bupati Gowa pertama.
3.2 Saran
Saran yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
perbaikan makalah ini. Bagi para pembaca dan teman-teman lainnya, jika ingin
menambah wawasan dan ingin mengetahui lebih jauh maka kami mengharapkan dengan
rendah hati agar membaca buku-buku ilmiah.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, Muhammad. (2013). Silsilah Kepemimpinan Kerajaan Gowa, http://anragogy.blogspot.com/2013/01/silsilah-kepemimpinan-kerajaan-gowa.html, diakses 25 April 2014
Negeri 1001 Cerita, Gowa. (2013). Asal-usul Kerajaan Gowa dan Silsilah Kerajaan Gowa, http://gowa-negeri1001cerita.blogspot.com/2013/07/asal-usul-kerajaan-gowa-dan-silsilah.html, diakses 25 April 2014
Pacce, Siri’ na. (2012). Silsilah Raja-Raja Tallo. http://jejakcelebes.blogspot.com/2012/06/silsilah-raja-raja-tallo.html, diakses 25 April 2014

0 komentar
Posting Komentar